Breaking
AsiaPlayLiveRekonix
League of Legends

Mengapa T1 Tak Selalu Berjaya di EWC, tetapi Nyaris Selalu Mengancam di Worlds?

Mengapa T1 Tak Selalu Berjaya di EWC, tetapi Nyaris Selalu Mengancam di Worlds?

Kemenangan mengejutkan Dplus KIA di ajang League of Legends Esports World Cup (EWC) 2026 kembali memicu perdebatan hangat di kalangan komunitas. Banyak yang mempertanyakan mengapa T1 yang diperkuat jajaran pemain bintang seperti Faker, Oner, Gumayusi, Keria, dan Doran justru gagal mendominasi turnamen tersebut.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah kompetitif sang raja. T1 tercatat memiliki karakteristik unik yang membuat grafik performa mereka selalu melonjak drastis saat memasuki World Championship dibandingkan turnamen internasional lainnya.

Worlds Menjadi Habitat Alami Tempat T1 Berkuasa

Selama beberapa musim terakhir, T1 memang tidak selalu tampil superior di kompetisi domestik maupun ajang seperti MSI dan EWC. Namun, atmosfer pertandingan akan berubah total ketika mereka melangkah ke panggung tertinggi World Championship.

Tercatat sejak edisi Worlds 2022, T1 secara spektakuler selalu berhasil menembus babak final, termasuk menyabet gelar juara berturut-turut pada 2023, 2024, hingga 2025. Kemampuan adaptasi luar biasa dalam sistem gugur inilah yang membuat mereka dinilai memiliki mentalitas baja saat tekanan mencapai titik tertinggi.

Format Baru Fearless Draft Merusak Kenyamanan T1

???? @stc_ksa bringing us a replay of @YikeLoL literally smurfing against T1 in front of the home crowd. Pure aura in the dragon pit. pic.twitter.com/riWv3ys7Zc

— EWC Extra (@EWC_Extra) July 18, 2026

Salah satu faktor pembeda utama di EWC 2026 adalah implementasi format Fearless Draft. Aturan ini melarang setiap tim untuk memilih kembali karakter (champion) yang sudah mereka gunakan pada game sebelumnya dalam satu rangkaian pertandingan.

Format ini terbukti berhasil mereduksi keunggulan taktis T1 yang selama bertahun-tahun terkenal jenius dalam merancang draf strategi spesifik untuk mengunci kelemahan musuh. Sebaliknya, Dplus KIA tampil jauh lebih efektif dalam menjaga konsistensi permainan meski harus terus mengganti komposisi karakter.

Kematangan Dplus KIA dan Filosofi Counter Makro Faker

Di sisi lain, Dplus KIA berhasil memanen buah kerja keras mereka setelah melewati fase pasang surut di LCK. ShowMaker kembali tampil sebagai motor serangan utama, didukung oleh kedewasaan permainan Lucid di posisi Jungler yang membuat koordinasi tim mereka menjadi sangat solid.

Kematangan kolektif ini juga mendukung teori komunitas bahwa counter terbesar bagi Faker adalah para pemain asal Korea Selatan sendiri seperti ShowMaker atau Chovy. Mereka tidak naif dengan menantang Faker berduel mekanik, melainkan memotong ruang gerak makronya melalui kontrol visi peta dan pengelolaan aliran minion (wave).

Evaluasi Jujur Sang Kapten Menuju Panggung Dunia

Even the greatest can fall.

We say goodbye to @T1LoL pic.twitter.com/b3Dhstj1yG

— EWC Extra (@EWC_Extra) July 18, 2026

Usai dipastikan tersingkir dari turnamen EWC 2026, Faker secara jantan tidak melemparkan kesalahan pada format pertandingan baru ataupun keunggulan strategi tim lawan. Dalam sesi wawancara media, sang legenda hidup justru menyoroti kelemahan internal dari timnya sendiri.

Ini adalah pertandingan yang mengecewakan untuk menelan kekalahan. Kami tidak tampil sebaik apa yang telah kami persiapkan. Tidak ada masalah besar dengan komunikasi dalam game kami, tetapi pengambilan keputusan sepersekian detik kami sangat buruk.

Lee "Faker" Sang-hyeok, wawancara pascapertandingan EWC 2026.

Budaya evaluasi internal yang jujur inilah yang selalu menjadi kunci utama mengapa T1 selalu bisa bangkit dari keterpurukan. Kekalahan di Riyadh kamu ketahui bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bahan bakar bagi T1 untuk kembali bertransformasi menjadi monster yang menakutkan saat panggung Worlds kembali dibuka nanti.

Sumber: asiaplaylive.com

← Lihat berita lainnya

Official Partner
Rekonix Team Esport