Breaking
AsiaPlayLiveRekonix
League of Legends

Riot Sembunyikan Statistik League Classic demi Kembalikan Sensasi Eksperimen

Riot Sembunyikan Statistik League Classic demi Kembalikan Sensasi Eksperimen

Riot Games mengambil langkah yang tidak biasa menjelang peluncuran League Classic. Berbeda dengan League of Legends modern yang dipenuhi berbagai situs statistik seperti OP.GG, U.GG, hingga Lolalytics, mode klasik ini justru tidak akan menyediakan akses terhadap data publik seperti win rate champion, build terbaik, atau statistik item melalui API resmi.

Keputusan tersebut memicu diskusi di kalangan komunitas. Sebagian pemain mempertanyakan alasan Riot menutup data yang selama bertahun-tahun menjadi bagian penting dari ekosistem League of Legends, sementara sebagian lainnya menyambut positif langkah tersebut untuk menghidupkan kembali esensi permainan yang kompetitif namun eksploratif.

Statistik Tidak Lagi Menjadi Panduan Utama

Perdebatan bermula setelah seorang pemain berhasil mengumpulkan data sekitar 10.000 pertandingan League Classic melalui Riot API di server PBE.

Data tersebut digunakan untuk menghitung win rate champion, item terbaik, hingga counter pick, sebelum akhirnya akses terhadap data pertandingan tersebut ditutup secara permanen oleh pihak pengembang.

Keputusan tersebut ternyata memang disengaja oleh Riot Games untuk mendorong pemain agar kembali mengandalkan pengalaman bermain, diskusi komunitas, dan proses trial and error dibanding langsung mencari jawaban instan melalui angka statistik.

Tidak akan ada data publik yang dibagikan, seperti win rate dan statistik lainnya. Tujuannya adalah menghadirkan kembali sisi RPG dari game ini, sehingga pemain bisa membangun gaya bermain mereka sendiri dengan lebih sedikit 'panduan'. Kamu diharapkan menemukan sendiri apa yang berhasil dan apa yang tidak melalui pengalaman bermain.

Phreak, Lead Gameplay Designer Riot Games

Riot Ingin Pemain Bereksperimen Lagi

Melalui mode ini, Riot ingin menghidupkan kembali masa ketika pemain mencoba berbagai kombinasi item, rune, mastery, hingga strategi lane tanpa mengetahui mana yang paling optimal secara matematis.

Kreativitas pemain yang selama ini perlahan berkurang akibat mayoritas langsung mengikuti build dengan persentase kemenangan tertinggi diharapkan bisa kembali tumbuh secara organik.

Pendekatan ini juga membuat setiap pertandingan terasa lebih penuh kejutan karena pemain belum tentu menggunakan build yang serupa satu sama lain, menjadikan eksplorasi sebagai kunci utama dalam meraih kemenangan.

League Classic Merupakan Kumpulan Greatest Hits

Any OG builds you’re looking forward to playing when League Classic is live in Patch 26.15? pic.twitter.com/M2KbuqUZOd

— League of Legends (@LeagueOfLegends) July 12, 2026

Dalam penjelasan resminya, Riot menegaskan bahwa League Classic bukanlah salinan persis dari satu musim tertentu. Mode ini mengambil berbagai elemen terbaik dari era awal League of Legends, mulai dari champion sebelum mendapatkan rework, Summoner Spell lawas seperti Fortify, item klasik seperti Frozen Mallet dan Atma's Impaler, hingga peta Summoner's Rift bergaya lama.

Kami memulai dari Season 3 sebagai fondasi, tetapi League Classic lebih merupakan kumpulan 'greatest hits' daripada representasi satu titik waktu tertentu.

Riot Yina, Developer Riot Games

Dengan tidak adanya akses API untuk statistik publik, pemain benar-benar harus kembali mengandalkan insting, eksperimen, serta pengalaman pribadi untuk menemukan kombinasi terbaik, persis seperti ketika League of Legends pertama kali populer lebih dari satu dekade lalu.

Sumber: asiaplaylive.com

← Lihat berita lainnya

Official Partner
Rekonix Team Esport